Nama : Tubagus Agastha u
Kelas : 3IA20
Kelas : 3IA20
Npm : 5A414899
Mata Kuliah : Pengantar Teknologi Game
Dosen :Syefani Rahma Deski
Mata Kuliah : Pengantar Teknologi Game
Dosen :Syefani Rahma Deski
PENULISAN BAB 8
Game Dota 2
Sebuah mod yang berhasil
menarik hati jutaan gamer di seluruh dunia, Defense of The Ancients (DOTA)
memang menjadi fenomena tersendiri. Mengubah mekanik awal yang ditawarkan oleh
Warcraft III, IceFrog menyuntikkan sensasi RPG yang lebih kental dengan membawa
pertempuran hero sebagai fokus utama. Tidak lagi harus dipusingkan dengan
strategi membangun unit, gamer kini dibawa dalam mode PvP yang cepat, intens,
dan pastinya – memacu adrenalin. Berfokus membangun karakter dengan perannya
masing-masing dan memainkan peran terbaik dalam pertempuran tim, DOTA bahkan
diakui sebagai salah satu game kompetitif yang seringkali dipertandingkan di
kancah internasional. Tidak salah jika Valve tertarik untuk mengakuisisi nama
yang satu ini.
Perjalanan akuisisi Valve
atas nama DOTA memang bukan perkara mudah. Sempat mengalami konflik dengan
Blizzard sebagai pemilik Warcraft III, perseteruan ini untungnya berakhir
damai. Valve berkesempatan untuk terus melanjutkan terus proyek ambisius ini,
menawarkan berbagai modifikasi di sisi visual dan tentu saja mekanik gameplay
yang lebih seimbang. Memasuki proses beta dan berhasil menjaring ratusan ribu
gamer selama proses ini, Valve akhirnya siap untuk keluar dari fase yang satu
ini. Setahun sejak rilis betanya, Valve akhirnya secara resmi merilis DOTA 2
secara bebas kepada publik. Sembari memastikan proses peralihan ini tidak akan
mengganggu pengalaman mereka yang sudah masuk ke dalam masa beta, DOTA 2
akhirnya terbuka bagi setiap gamer lewat sistem F2P yang ia usung.
Mengingat masa beta yang
sudah berakhir dan eksistensinya sebagai sebuah game resmi yang terbuka secara
komersil, ini menjadi momen yang tepat bagi JagatPlay untuk melemparkan beberapa
impresi yang sempat kami tangkap, tentu saja – selama setahun terakhir ini. Apa
saja yang berubah? Menjadi lebih baik atau lebih buruk? Atau ia masih belum
mampu menundukkan popularitas DOTA pertama?
Review Game Dota 2
Salah satu yang paling
signifikan adalah perubahan model karakter yang digunakan. Walaupun hadir
dengan model karakter yang jauh berbeda dengan lebih halus, Anda tetap dapat menemukan
beberapa ciri utama karakter yang tetap dipertahankan dari seri pertamanya.
Konsep ini mempermudah para gamer DOTA pertama untuk menyesuaikan diri dengan
cepat, terutama mereka yang belum familiar dengan desain baru hero yang ada. Tidak hanya dari model karakter, Valve juga menyuntikkan nama yang
lebih “umum” untuk mencegah permasalahan lebih jauh.
Perubahan visualisasi ini
juga diterapkan untuk beragam desain item dan persenjataan yang ditawarkan di
toko. Memang butuh waktu lebih lama bagi para gamer pendatang baru ataupun
mereka yang sempat mencicipi DOTA pertama untuk menguasai aspek ini lebih dalam.
Tidak hanya sekedar mempelajari desain item dan resep yang untungnya, sedikit
terbantu dari penjelasan yang tetap disertakan ketika Anda melakukan hover di
setiap item yang ada, Anda juga mulai harus menghafal kembali lokasi item yang
kini ditempatkan dalam pengakategorian yang berbeda. Setiap hero juga akan
hadir dengan rekomendasi item untuk memaksimalkan kemampuan terbaiknya,
membantu para pendatang baru untuk lebih dapat menguasai game ini dengan lebih
cepat.
Perubahan visualisasi
berarti juga berpengaruh langsung pada animasi gerak setiap karakter yang ada.
Tidak berpengaruh besar bagi para pemain DOTA yang baru, namun perubahan
animasi ini akan memaksa para pemain veteran untuk menyesuaikan ritme gameplay
kembali. Sementara mereka yang tumbuh besar bersama dengan game MOBA yang lain,
DOTA 2 mungkin akan terasa lebih lambat. Mengapa animasi sangat signifikan?
Karena animasi gerak dan serangan akan sangat menentukan seberapa baik Anda
tampil dalam DOTA 2. Anda menjadikanya sebagai pondasi untuk melakukan creeping
yang efektif dan tentu saja, melakukan kombinasi skill yang lebih mumpuni.
Anonimitas dalam dunia maya
dipadukan dengan mekanik gameplay yang memang sangat bergantung pada team-play
dan performa individu setiap anggota, DOTA 2 akan menjadi rumah yang sangat
tidak nyaman untuk para gamer pendatang baru. Valve sendiri memang sudah
menyuntikkan mode tutorial dan “bot” untuk membantu gamer mendapatkan atmosfer
pertempuran yang tepat, namun sayangnya – tidak cukup kuat untuk merepresentasikan
kondisi pertarungan ketika berhadapan dengan user yang lain. Ketika para
pendatang baru seringkali mati atau tidak memberikan kontribusi signifikan
dalam pertempuran, maka beragam makian dan berbagai kalimat merendahkan akan
meluncur dengan begitu mudah di layar kaca Anda. “Noob”, “Stupid”, hingga
beberapa kata yang lebih kasar menjadi pemandangan yang tidak asing lagi.
Game Ninja saga
Ninja Saga adalah game
populer bertemakan ninja 2D RPG di situs jejaring sosial facebook yang
menampilkan pertempuran PvP yang seru secara real-time. Dalam permainan ini
pemain akan menjadi ninja muda yang dalam pelatihan, berjuang dengan cara
mereka sampai ke status bergengsi para ninja, “Kage-Master”. Pelajari seni
bela-diri misterius ninjutsu dan manfaatkan kekuatan alam seperti angin, air,
api, bumi, dan kilat untuk menghancurkan musuh. Bertarung dengan para ninja
pemain lainnya ,monster, dan tantang teman
dalam pertempuran sengit yang seru. Dapatkan kehormatan sebagai
Master-Kage terbaik dan selamatkan desa-desa setempat dari teror kegelapan di
Ninja saga
Perbedaan antara game dota 2
dan game ninja saga
Game Dota 2
- Game yang berasal dari steam.
- Grafik gamenya yang memakai 3D sehingga
banyak yang menikmati game tersebut.
- Cara bermain lebih simple dan lebih mudah di pahami oleh gamers.
Ninja saga
- Game yang berasal dari Facebook
- Grafik gamennya memakai 2D sehingga
gamers sedikit kurang menarik walaupun banyak yang mendownload game
tersebut di facebook.
- Cara bermain yang simple tetapi
gamers cepat bosen saat mencari senjata yang langka di ninja saga ini.
SUMBER




